Minggu, 19 Juli 2020

Tematik



Senin, 20 Juli 2020
 
Pelajaran Tematik
Kelas 4 Al-Farabi


Muatan Pelajaran
            Bahasa Indonesia
 
Tema 1          :
            Membangun Indahnya Kebersamaan

Sub Tema 1   :
            Keberagaman Budaya Bangsaku

KD 3.1           :
   Mencermati gagasan pokok dan gagasan pendukung yang diperoleh dari
   teks lisan, tulis atau visual.



Hari ini kita akan belajar tentang gagasan pokok dan gagasan pendukung. Apa sih gagasan pokok dan gagasan pendukung itu?

Gagasan pokok itu adalah kalimat  utama atau ide utama yang dibahas dalam suatu bacaan. Sedangkan Gagasan pendukung adalah uraian atau tambahan informasi untuk gagasan pokok.

Untuk lebih jelasnya, Yuk, simak video berikut … (klik link berikut:
https://youtu.be/pRy_K07TW2E ).

Alhamdulillah…
InsyaAllah anak-anak sudah memahami gagasan pokok dan gagasan pendukung. Nah, setelah menyimak video pembelajaran tesebut anak-anak bisa berlatih mengerjakan tugas dengan klik link ini … https://forms.gle/SanbZEESmfUtP3H2A

 
 
Selamat belajar dan selamat mengerjakan!

Rabu, 15 Juli 2020


Jum’at (17 Juli 2020)
Pembelajaran hari ini tentang:

Keberagaman Budaya Bangsa Indonesia

                
          Negara Indoenesia merupakan Negara kepulauan. Karena itu Indonesia memmpunya banyak pulau yang terhampar dari sabang sampai merauke. Setiap pulau memiliki suku bangsa dan budaya yang berbeda-beda. Bagaimana keragaman di Indonesia? Tontonlah video berikut (klik link ini: https://www.youtube.com/watch?v=dHSYWCwc3HM, kemudian untuk memperkuat pemahaman kalian tentang itu bacalah buku paket kelas 4 tema 1halaman 4 sampai halaman 7.
         Al hamdulillah, kalian sekarang sudah paham tentang Keberagaman Budaya Bangsa Indonesia. Sekarang kerjakan tugas berikut dengan klik link berikut: https://forms.gle/FVCtxNbHWX7rcdXAA


Selamat mengerjakan!


 

Kamis, 09 Juli 2020


Memahami  
Konsentrasi    Anak
(Catatan Harian Pembelajaran di Kelas)

Oleh:
Ya'qub Chamidi,MPd
(Guru Kelas 3 Al-Farabi SD Muhammadiyah 2 Sidoarjo)
 
      Sudah biasa, di awal tahun ajaran Wali Kelas menyampaikan  jobdesk pengurus kelas yang sudah dipilih dan disepakati bersama. Salah satu kepengurusan itu adalah piket kelas. Tugasnya antara lain: Mengambil buku bacaan dari almari, menata di atas meja dan mengembalikan ke almari lagi ketika pulang. Setelah disampaikan, hari-hari selanjutnya pekerjaan ini berjalan lancar. Setiap pagi saya melihat buku-buku bacaan sudah tertata rapi di atas meja sehingga di saat-saat senggang siswa bisa bebas mengambil buku bacaan yang disenangi. 
 
     Tibalah liburan semester ganjil. Liburan ini kurang lebih selama dua pekan. Setelah dua pekan, siswa masuk sekolah. Ketika masuk kelas, saya mengamati beberapa sudut kelas, meja dan sekitarnya. Al-Hamdulillah, pembiasaan-pembiasaan masih tetap berjalan, antara lain pemutaran jam kehadiran oleh setiap siswa, penataan buku bacaan oleh petugas piket, dan lain-lain. Tetapi ketika siswa pulang, saya terkejut, karena ada yang tidak biasa, saya melihat buku-buku bacaan masih berserakan di atas meja dan tidak dikembalikan ke dalam almari.
Keesokan harinya, saya sampaikan dan ingatkan kembali kepada siswa tentang pentingnya menjaga amanah dan kelak akan dipertanggungjawabkan. Salah satu amanah itu adalah tugas-tugas piket, salah satunya adalah mengambil buku bacaan dari almari, menata di atas meja dan mengembalikan ke almari lagi ketika pulang.
Al-Hamdulillah, di hari-hari berikutnya buku bacaan sudah tertata rapi, baik di pagi hari menjelang pembelajaran dimulai atau di siang hari ketika siswa pulang sekolah.
          Dari sini ada pelajaran yang bisa dipahami, bahwa anak memiliki rentang konsentrasi yang ada batasnya. Menuntut anak untuk terus belajar tanpa memahami rentang konsentrasi mereka apalagi jika ditambahi dengan marah-marah disertai dengan umpatan-umpatan negatif justru akan memberikan pengalaman yang kurang baik untuk mereka tentang belajar. Karena itu, mendampingi belajar anak ketika belajar bukan hanya memastikan anak memahami pelajaran mereka tetapi membantu anak untuk mempunyai pengalaman yang indah tentang belajar. Dari pengalaman yang indah tentang belajar itulah dapat mendorong munculnya hobi baru dari anak. Hobi itu adalah belajar.

Minggu, 28 Juni 2020


SEBENARNYA MAMPU, 
TAPI KENAPA TIDAK DILAKUKAN?

(Catatan Harian Pembelajaran di Kelas)
Oleh:
Ya'qub Chamidi,MPd
(Guru Kelas 3 Al-Farabi SD Muhammadiyah 2 Sidoarjo)






Di kelas 3 ar Razi tahun pelajaran 2018-2019, ada program Tahfidz Kompetisi yang hasilnya bisa dilihat bersama di dalam kelas. Setiap hari ada beberapa siswa berkompetisi dengan cara setoran hafalan kepada Wali Kelasnya. Ada yang setor satu surat, tiga surat, bahkan ada yang lebih dari itu. Diantara siswa-siswa itu ada yang bernama Althaf (samaran). Ketika temannya berlomba setoran hafalan, Althaf setor tapi semangat seperti teman-temannya, padahal dia mampu melakukan bersaing dengan teman-temannya.
Waktu berjalan dan tidak terasa pembelajaran akan berakhir, beberapa temannya sudah menyelesaikan target hafalan tapi Althaf masih sedang menyelesaikan setoran hafalannya. Sebenarnya, dia mampu menghafal dan sama-sama setor sebagaimana teman-teman lainnya yang sudah menyelesaikan target hafalan, tetapi dia tidak greget alias santai menyelesaikannya. Mama Althaf (seperti dalam chat whattsapp dan langsung disampaikan kepada saya) sering memberi motivasi agar segera menyelesaikan, tapi Althaf tetap santai setoran dari surat ke surat yang lain. Hingga pembelajaran kelas 3 berakhir Althaf pun masih menyelesaikan setoran hafalan beberapa surat. Tetapi apadaya, pembelajaran sudah berakhir dan target hafalan kelas tigapun belum tuntas.
Pengalaman tersebut menginspirasi untuk berpikir apa yang harus dilakukan selaku Wali Kelas. Tentu, mengeluh saja tanpa berbuat apa-apa adalah hal yang bukan solutif. Pertanyaan yang perlu dijawab adalah mengapa ada siswa yang sebenarnya mampu, tapi mengapa  tidak mau melakukan?. Mendapat nilai baik atau kurang baik reaksi siswa ini tetap sama, santai saja. Padahal hadiah yang dijanjikan atau kadang ancaman tidak menggerakkan dirinya untuk berprestasi atau meningkatkan prestasinya.
Pada dasarnya, semua anak ingin berprestasi dan prestasi ini ingin diakui. Tetapi, kenyataannya sebagian dari mereka dapat mencapai keinginan tersebut karena ia mau berusaha dan berupaya untuk mewujudkannya. Sementara sebagian yang lain ingin berprestasi tetapi tidak mau menjalani usaha dan upaya. Akhirnya tidak dapat meningkatkan prestasinya.
Mengapa itu terjadi? Salah satu penyebab yang paling besar adalah banyak anak yang menginginkan suatu barang seperti mainan atau makanan tetapi dengan mudah orangtuanya memberikan kepadanya. Sementara pada anak-anak lain yang menginginkan barang atau makanan harus melewati syarat yang mengharuskan ia menempuh usaha maupun upaya.
Dari sinilah seorang anak mulai belajar dalam hidupnya bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan ia harus berusaha maupun berupaya. Dan jika anak sering melewati usaha dan upaya maka ia mulai terbiasa untuk melakukannya tanpa merasakan bahwa upaya dan usaha tersebut sebagai beban bagi dirinya. Akhirnya ketika ia memiliki keinginan yang lebih abstrak, seperti mendapat nilai dari pelajarannya maka ia dengan ringan mau berupaya dan berusaha. Wallahu a’lam bish-shawab